Beberapa waktu terakhir, hampir setiap pekerjaan yang saya kerjakan selalu melibatkan AI. Bukan lagi sekadar bertanya atau mencari jawaban, tetapi saya mulai memberikan berbagai macam pekerjaan kepadanya. Mulai dari menulis, membaca dan memperbaiki kode, mencari penyebab error, membuat fitur baru, melakukan analisis, sampai membantu mengembangkan berbagai proyek yang sedang saya kerjakan.
Salah satunya adalah ketika saya sedang meng-upgrade tema blog pribadi saya, hanifmu.com. Ada banyak bagian yang ingin saya perbaiki, mulai dari tampilan, struktur halaman, sampai berbagai detail kecil yang sebelumnya tidak terlalu saya pikirkan. Kalau semuanya dikerjakan sendiri, tentu membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Dengan bantuan AI, saya bisa memberikan bagian tertentu untuk dikerjakan, kemudian melihat hasilnya dan menentukan apa yang perlu diperbaiki lagi.
Prosesnya juga tidak selalu berjalan mulus. Kadang hasil yang diberikan AI sudah sesuai dengan yang saya inginkan. Tetapi tidak jarang juga hasilnya justru membuat saya harus memberikan instruksi tambahan. Ada tampilan yang terlalu besar, ada bagian yang kurang pas di layar kecil, ada kode yang mengubah bagian lain, atau ada keputusan yang menurut saya sebenarnya tidak diperlukan.
Kalau sudah begitu, saya tinggal mengarahkannya lagi. Saya jelaskan apa yang salah, apa yang seharusnya dilakukan, dan bagian mana yang tidak boleh disentuh. AI kemudian memperbaikinya dan saya periksa lagi. Kalau masih belum sesuai, prosesnya diulang. Semakin sering dilakukan, saya semakin terbiasa dengan pola kerja seperti ini.
Dari kebiasaan itu, saya kemudian teringat satu kata dalam bahasa Jawa: angon.
Dalam bahasa Jawa, angon berarti menggembalakan atau menjaga hewan ternak. Orang yang angon membawa ternaknya ke tempat yang dituju, mengawasi supaya tidak pergi terlalu jauh, dan mengarahkannya kembali ketika mulai keluar dari jalur. Semakin saya pikirkan, semakin terasa bahwa kata tersebut cukup menggambarkan cara saya bekerja dengan AI belakangan ini.
Saya memberikan tujuan dan arah, kemudian AI membantu mengerjakan. Kalau hasilnya sudah benar, pekerjaan bisa dilanjutkan. Kalau ada yang kurang, saya koreksi. Kalau AI mulai mengerjakan sesuatu yang tidak sesuai, saya arahkan kembali. Saya tidak harus melakukan semuanya sendiri, tetapi tetap harus tahu apa yang sedang dikerjakan dan seperti apa hasil yang saya inginkan.
Mungkin ini yang membuat penggunaan AI terasa berbeda bagi saya sekarang. Dulu ketika ingin membuat sesuatu, saya harus mengerjakannya sendiri dari awal. Kalau menemukan masalah, saya harus mencari jawabannya sendiri. Kalau ingin mencoba sesuatu yang baru, saya harus mempelajari semuanya terlebih dahulu sebelum bisa mulai mengerjakannya.
Sekarang prosesnya menjadi sedikit berbeda. Ketika menemukan masalah, saya bisa berdiskusi dengan AI untuk mencari kemungkinan penyebabnya. Ketika memiliki ide, saya bisa meminta AI membantu mengembangkannya. Ketika ingin membuat sesuatu tetapi belum tahu harus mulai dari mana, saya bisa meminta bantuan untuk menyusun langkah awal. Bahkan ketika sudah memiliki kode yang berjalan, saya bisa meminta AI membacanya dan memberikan saran untuk memperbaikinya.
Bukan berarti semuanya menjadi otomatis. Justru semakin sering menggunakan AI, saya semakin sadar bahwa hasil yang diberikan tetap harus diperiksa. AI bisa bekerja dengan sangat cepat, tetapi cepat bukan berarti selalu benar. Kadang AI terlalu percaya diri ketika memberikan jawaban. Kadang ia membuat sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan. Ada juga kalanya sebuah perbaikan justru menimbulkan masalah baru di bagian lain.
Karena itu saya tetap harus membaca, mencoba, membandingkan, dan mengambil keputusan. AI bisa membantu mengerjakan, tetapi saya yang menentukan apakah hasilnya benar atau tidak. Kalau tidak sesuai, saya yang harus tahu bagian mana yang perlu diperbaiki dan bagaimana mengarahkannya.
Bagi saya, AI sekarang juga bukan sekadar alat untuk mencari jawaban. Rasanya lebih seperti teman kerja yang selalu tersedia ketika dibutuhkan. Ketika sedang buntu, ada yang bisa diajak berdiskusi. Ketika menemukan error, ada yang bisa membantu mencari kemungkinan penyebabnya. Ketika punya ide, ada yang bisa diajak mengembangkannya. Bahkan pekerjaan yang sebelumnya terasa terlalu merepotkan untuk dikerjakan sendiri menjadi lebih mungkin untuk dicoba.
Hal tersebut juga membuat saya lebih berani mencoba berbagai macam hal. Ada ide yang sebelumnya mungkin hanya berhenti sebagai pikiran karena saya merasa terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Sekarang saya bisa mulai saja dulu. Saya kerjakan bagian yang memang saya pahami, kemudian meminta bantuan AI untuk bagian lainnya. Kalau ada masalah, saya perbaiki sambil jalan.
Termasuk untuk menulis.
Tulisan yang sedang dibaca ini pun dibuat dengan bantuan AI. Saya memberikan gagasan, pengalaman, dan apa yang ingin saya ceritakan. AI kemudian membantu menyusunnya menjadi tulisan. Setelah itu saya membaca kembali, mengubah bagian yang terasa kurang pas, meminta beberapa bagian diperbaiki, dan menyesuaikannya dengan gaya tulisan yang saya inginkan.
Bagi saya, tidak ada yang perlu disembunyikan dari hal tersebut. Kalau memang menggunakan AI, ya saya menggunakan AI. Justru menurut saya menarik untuk mencatat bagaimana kebiasaan bekerja dengan AI mulai berubah. Dulu mungkin AI hanya saya gunakan ketika sedang mencari jawaban atas sesuatu. Sekarang AI sudah masuk ke dalam proses pekerjaan itu sendiri.
Tetapi saya juga tidak ingin menganggap bahwa semua pekerjaan harus diserahkan kepada AI. Ada hal-hal yang tetap ingin saya kerjakan sendiri, terutama ketika menyangkut keputusan, pengalaman, dan sesuatu yang memang ingin saya pikirkan secara pribadi. AI boleh membantu menyusun, memperbaiki, atau memberikan alternatif, tetapi saya tetap ingin menjadi orang yang menentukan apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan.
Mungkin di situlah saya merasa istilah angon AI cukup menarik. Saya bukan menyerahkan semuanya kepada AI dan kemudian menunggu hasil akhirnya. Saya tetap ikut berada di dalam prosesnya. Saya memberikan arah, mengawasi, mengoreksi, dan sesekali membiarkan AI bekerja cukup jauh sebelum saya melihat kembali hasilnya.
Seperti orang yang sedang angon, saya tidak harus terus-menerus mengejar setiap langkah. Yang penting saya tahu ke mana arahnya dan bisa mengembalikannya ketika mulai keluar jalur.
Saya tidak tahu apakah istilah angon AI akan menjadi sesuatu yang benar-benar digunakan orang lain atau hanya menjadi istilah yang saya gunakan sendiri. Bagi saya, tidak terlalu penting. Saya hanya merasa kata tersebut cukup tepat untuk menggambarkan kebiasaan saya belakangan ini.
Semakin banyak pekerjaan yang bisa dibantu AI, saya justru semakin merasa bahwa kemampuan manusia untuk menentukan arah menjadi semakin penting. Bukan hanya soal seberapa pintar AI yang kita gunakan, tetapi juga seberapa jelas kita tahu apa yang ingin kita kerjakan, bagaimana hasil yang kita inginkan, dan kapan harus mengatakan bahwa hasilnya sudah cukup baik.
Mungkin memang seperti itulah angon AI bagi saya: bukan membiarkan AI melakukan semuanya sendiri, melainkan bekerja bersamanya sambil tetap memegang arah.
