Setiap daerah baik itu provinsi maupun kabupaten atau kota pasti memiliki lambang daerah, tak terkecuali Kabupaten Lamongan. Lambang Daerah Kabupaten Lamongan ditetapkan dalam Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Lamongan Nomor 23 Tahun 1970 tentang Lambang Daerah Kabupaten Lamongan yang disahkan pada tanggal 20 Oktober 1970.

Berikut ini penjelasan arti Lambang Daerah Kabupaten Lamongan yang bersumber dari Perda Kabupaten Lamongan Nomor 23 Tahun 1970 tentang Lambang Daerah Kabupaten Lamongan.

Catatan: Penjelasan di bawah ini dikutip apa adanya dari Perda Kabupaten Lamongan Nomor 23 Tahun 1970 tentang Lambang Daerah Kabupaten Lamongan.

PENJELASAN UMUM
ARTI LAMBANG DAERAH KABUPATEN LAMONGAN

I. BENTUK LAMBANG

Lambang Daerah Kabupaten Lamongan berbentuk segi lima, melambangkan dasar Negara Republik Indonesia ialah Pancasila, yang harus dipertahankan oleh seluruh rakyat Indonesia sampai akhir zaman, sebab kelima Sila itulah jiwa dan semangat Bangsa Indonesia yang slaras dengan tuntunan budi-nurani umat manusia di dunia ini.

II. TATA-WARNA DAN MOTIEF GAMBAR

a. Tata-warna yang digunakan: biru tua, biru muda, kuning, hijau dan putih;

b. Motief gambar: pita nama, genuk, air, ikan lele, ikan bandeng, terras lima tingkat, keris luk lima, gunung tidak berapi, pada, kapas, dan bintang.

Penjelasan tentang arti tata-warna dan motief gambar akan diuraikan di dalam Bab III, Bab IV, dan Bab V di bawah ini.

III. DARI SUDUT SEJARAH

A. Menurut cerita rakyat yang sampai sekarang masih hidup di kalangan khalayak ramai Daerah Lamongan, bahwa yang mula pertama berkuasa di daerah ini adalah seorang tokoh yang bernama ADI ROGO dan yang pada wakti itu berkenan memakai sebuatan KYAI AMONG ROGO. Dari kata “AMONG” ini terjadilah kemudian kata “Amongan” yg berarti mengemban atau mengatur dan dari kata “Anongan” itu lama kemudian terjadilah kata jadiann “LAMONGAN” yang selanjutnya daerah disebut LAMONGAN (periksa pita nama di dalam Lambang).

B. Tokoh ADI ROGO adalah seorang yang drat hubungannya dengan SUNAN GIRI (di Gresik), sehingga tidaklah mengherankan bila Adi Rogo kemudian mendapat kepercayaan untuk mengambil dan ngramut pusaka milik Sunan Giri yang berwujud keris luk lima yang tertinggal dan tersimpan di daerah Lamongan. Pusaka yag berwujud keris itu sampai sekarang masih ada, terkenal dengan sebutan “Mbah Jimat”, tersimpan baik di dalam suatu bangunan khusus yang terletak di Jalan Pusat kota Lamongan (Periksa motief gambar keris luk lima di dalam Lambang).

C. Didalam melaksanakan tugas mengambil keris tersebut di atas Kyai Among Rogo mendapatkan kesulitan-kesulitan, dimana untuk mengatasi kesulitan itu Kyai Among Rogo menjelma menjadi “Lele-jadian”, sehingga tugas tersebut berhasil (periksa motief gambar ikan lele di dalam Lambang).

D. Menurut kenyataan sampai sekarang jenis ikan lele ini terdapat banyak sekali di daerah Lamongan, tetapi karena adanya riwayat ikan lele yang berjasa seperti tersebut diatas maka penduduk asli daerah Lamongan sampai sekarang pantang (tabu) memakan ikan lele. Pada umumnya ikan lele ini banyak terdapat di dalam JUBLANG, yaitu kolam tempat tandon air hujan yang terdapat hampir tiap pekarangan penduduk daerah Lamongan, air mana dipakai untuk kepentingan segala hajar hidup penduduk Lamongan, dikarenakan sumber air terasa asin.

Oleh karena itu JUBLANG ini berjasa besar untuk kehidupan penduduk Lamongan (periksa motief gambar air berwarna biru tua di dalam Lambang).

E. Menurut perkembangan, kemudian diusahakannya tambak-tambak darat di daerah ini, maka ikan bandeng merupakan usaha pertama di dalam pertambakan ini dan merupakan penghasilan baik bagi petani petani nelayan darat terutama di daerah Bonorowo. Dus dengan peningkatan exploitasi pertambahan di daerah Bonorowo, maka ikan bandeng merupakan harapan baik untuk meningkatkan hidup rakyat di hari depan (periksa motief gambar ikan bandeng di dalam Lambang).

F. Sebagai kelanjutan sejarah di atas, konon ADI ROGO atau KYAI AMONG ROGO mempunyai putera bernama PANJI LARAS-LIRIS, yang konon ceriteranya dipinang oleh puteri dari Kediri bernama Dewi ANDANSARI (nama Laras-Liris maupun Andarasari sampai sekarang diabadikan menjadi nama jalan di dalam kota Lamongan) dengan membawa barang sasarahan diantaranya berwujud sebuah GENUK besar (gentong, barang tembikar), benda mana sampai sekarang masih ada dan diletakkan disuatu tempat khusus di Masjid Jami' kota Lamongan (periksa motief gambar Genuk di dalam Lambang).

IV. DARI SUDUT SOSIAL-EKONOMI

A. Disebabkan oleh geographie dan keadaan alamnya, maka soal AIR merupakan masalah pokok yang unuk didalam kehidupan rakyat daerah Lamongan. Dimusim hujan terlalu banyak air (banjir routine setiap tahun) dan dimusim kemarau terlalu kurang air (kekeringan routine setiap tahun). Oleh karena itu warna yang kebiru-biruan (biru muda) dijadikan warna dasar dari pada Lambang ini.

B. Karena masalah air yang unik ini, maka sepanjang masa rakyat Lamongan selalu meng-idam-idamkan tewujudnya TIGA HARAPAN, ialah: Proyek Bengawan Solo (Proyek Waduk Jipang), Proyek Bonorowo dan Proyek Waduk Gondang, Tiga Harapan ini diabadikan terwujut motief gambar TIGA GELOMBANG PUTIH di dalam Lambang (periksa tiga gelombang di dalam air yang biru tua).

V. ARTI GAMBAR-GAMBAR MOTIEF LAINNYA

A. Motief gambar terras bertingkat lima, melambangkan Falsafah Hidup Bangsa Indonesia, ialah Pancasila, yang harus diamankan dan diamalkan oleh setiap warga Daerah Lamongan khususnya, Indonesia pada umumnya.

B. Motief gambar gunung tidak berapi yang menjadi latar belakang dari motief-motief gambar yang lain, menunjukkan bahwa daerah Lamongan berbataskan pegunungan gamping di daerah selatan maupun daerah uatara (Gunung Kendeng dan Gunung Gamping Lor), tempat tempat mana penuh material penting untuk pembangunan, yaitu batu gunung, gamping, kayu jati, gips dan sebagainya sebagai modal warga Lamongan mencapai cita-cita kejayaannya.

C. Motief gambar padi dan kapas, melambangkan kemakmuran hidup yang selalu di idam-idam kan oleh setiap rakyat Indonesia (pangan dan sandang).

D. Motief gambar bintang bersudut lima dan memancarakan SINAR KUNING melambangkan keyakinan ber-Ketuhanan Yang Maha Esa yang sangat mendalam pada setiap warga Daerah Lamongan serta sikap toleransi yang wajar diantara penganut Agama yang satu dengan yang lainnya yang syah di Indonesia ini.

E. Motief gambar Genuk, yang dilukis sebagai garis lengkung perspektief di dalam Lambang mengkiaskan tempat air jernih bagi setiap insan yang memerlukannya, dimana hal ini berarti bahwa Daerah Lamongan terbuka untuk setiap insan yang berminat baik dan bahwa warga Daerah Lamongan berpandangan luas dan supel didalam hidup-hidup kemasyarakatannya.

F. Motief gambar ikan lele yang dilukiskan simetris dengan ikan bandeng, mengkiaskan ikan lele yang memiliki sifat-sifat positief dan ciri-ciri yang khas, yaitu dapat hidup didalam keadaan air yang melimpah-limpah, tetapi juga dapat bertahan hidup di dalam tempat yang hampir tidak ada air. Hal ini meng-artikan warga Daerah Lamongan yang tak pernah putus asa menghadapi banjir routine dimusim hujan dan kekeringan routine dimusim kemarau. Disamping itu, Ikan lele selalu kelihatan lemah gemulai namun selalu siap dengan senjatanya yang ampuh, ialah “Patil” nya. Hal ini menggambarkan sikap ramah-tamah warga Daerah Lamongan namun tidak mau dijarag dan suka diremehkan.

Referensi: