ADVERTISEMENT

Belakangan ini, perkembangan kecerdasan buatan (AI) memang sangat masif dan memancing rasa ingin tahu. Bagi saya pribadi, mencoba teknologi ini bukanlah tentang merancang sebuah arsitektur software yang kompleks dari awal, melainkan murni dari semangat ngoprek dan coba-coba untuk membangun sebuah sistem secara praktis. Dari keisengan bereksperimen itulah, lahir satu proyek sederhana: sebuah web pencarian kode pos Indonesia.

Aplikasi tersebut kini dapat diakses melalui pos.hanifmu.com.

Sebelumnya, saya memang pernah membuat layanan serupa yang beralamat di kodepos.hanifmu.com. Pada saat itu, saya membangunnya menggunakan platform Hugo. Namun kali ini, pendekatannya sama sekali berbeda. Aplikasi web yang baru ini dibangun 100% menggunakan kode yang dihasilkan oleh Claude secara gratis. Peran saya hanya memberikan instruksi, dan membiarkan AI yang bekerja di balik layar.

Realita di Balik Layar: Tidak Ada Keajaiban “Satu Prompt”

Publik sering kali mendapat impresi bahwa menggunakan AI ibarat sebuah sihir; kita cukup mengetikkan satu kalimat perintah, dan sistem langsung tercipta dengan sempurna.

Memang benar bahwa semuanya bermula dari satu instruksi dasar. Berikut adalah prompt pertama yang saya berikan kepada Claude saat memulai eksperimen ini.

 Tangkapan layar prompt pertama di Claude.

Tangkapan layar prompt pertama di Claude.

Namun, kenyataan di lapangan tidak seinstan itu. Claude tidak serta-merta menghasilkan aplikasi yang bug-free dan langsung siap pakai pada percobaan pertama.

Untuk sampai pada hasil akhir yang fungsional, ada proses panjang yang harus dilalui. Di panel Claude saya, tercatat hingga 33 artefak kode yang dihasilkan. Ini berarti saya harus memasukkan puluhan instruksi lanjutan untuk memperbaiki layout, menyesuaikan logika pencarian, hingga merapikan struktur kodenya.

Proses ini menyadarkan saya bahwa membangun sistem menggunakan AI lebih menuntut kemampuan kita dalam memberikan arahan yang presisi, melakukan evaluasi, dan terus beriterasi hingga menemukan hasil yang pas.

Fondasi Utama: Kolaborasi Open Source

Satu hal yang tidak boleh dilupakan dari eksperimen ini adalah ketersediaan data. Sebagus dan seefisien apa pun AI menuliskan baris kode, aplikasi pencari kode pos tidak akan ada artinya tanpa basis data yang akurat.

Untuk kebutuhan basis data wilayah dan kode pos seluruh Indonesia, saya sangat terbantu oleh komunitas open source. Saya mengambil data dari repositori GitHub milik cahyadsn, spesifiknya pada dua repositori berikut:

Melalui catatan ini, saya ingin menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada cahyadsn dan para kontributor yang telah memelihara data publik ini. Tanpa dedikasi mereka merawat data yang terbuka untuk umum, proyek eksperimen ini tidak akan bisa berjalan.

Pada akhirnya, proyek ngoprek ini menghasilkan sebuah utilitas kecil yang saya harap bisa bermanfaat. Bagi Anda yang mungkin sedang membutuhkan informasi kode pos untuk keperluan administrasi atau pengiriman paket, silakan mencoba mencari data wilayah yang Anda tuju melalui pos.hanifmu.com.

Eksperimen ini memberikan perspektif baru bagi saya tentang bagaimana AI perlahan mulai menggeser cara kita dalam merealisasikan sebuah ide menjadi produk yang nyata.

ADVERTISEMENT